Building Financial Models with Claude AI by Purwadi Nitimidjojo - Independent Finacial Modeling Consultant & Trainer

Ketika suatu sore saya buka YouTube di dashboard utama muncul sebuah video menarik dari channel CFA Society Indonesia, judulnya "Building Financial Models with Claude AI by Purwadi Nitimidjojo - Independent Finacial Modeling Consultant & Trainer".
Wah, sebagai orang yang sering bergulat dengan kerumitan Excel, saya langsung penasaran dan klik video tersebut. Ternyata, isinya benar-benar mind-blowing dan mengubah cara pandang saya tentang penggunaan AI di dunia kerja, khususnya di bidang financial modeling!
Di video berdurasi lebih dari satu jam itu, Pak Purwadi—seorang veteran financial modeler dengan pengalaman 25 tahun yang pernah berkarier di Chase Manhattan Bank, BPPN, hingga Deloitte—membongkar rahasia bagaimana AI seperti Claude bisa jadi "cheat code" legal buat para analis keuangan.
Bayangkan saja, Pak Purwadi cerita kalau dulu bikin satu model keuangan kompleks (misalnya untuk PLN) itu bisa memakan waktu berbulan-bulan sampai hampir setahun. Anda harus duduk berjam-jam memelototi layar, punching keyboard merangkai formula. Tapi sekarang? Dengan bantuan AI, tugas berat (heavy lifting) itu bisa dipangkas secara drastis, menghemat 70% hingga 80% waktu kerja kita! Pekerjaan berbulan-bulan kini bisa selesai dalam hitungan minggu.
Dari video tersebut, saya mencatat beberapa "daging" atau poin-poin emas yang bisa langsung kita praktikkan:
1. Berhenti Jadi Pengguna AI "Level 1" Pak Purwadi mengutip Dan Martel, yang bilang kalau 99% dari kita itu ternyata masih pengguna AI "Level 1". Artinya, kita cuma pakai AI sebagai chatbot biasa ala ChatGPT. Kalau mau benar-benar efisien, kita harus menjadikan AI sebagai co-pilot yang mengeksekusi workflow kerjaan kita. Dalam hal ini, posisikan diri Anda sebagai "Arsitek", dan AI sebagai "Insinyur Sipil" atau kuli bangunannya.
2. Rahasia Prompt yang Bikin AI Nggak Halusinasi Biar AI nggak ngawur, instruksinya (prompt) harus super detail. Pak Purwadi menyarankan kita untuk memberikan AI sebuah role (peran). Misalnya, ketik: "Kamu adalah financial modeler dengan pengalaman 20 tahun". Selain itu, kita harus spesifik menyebutkan aturan mainnya, seperti memakai standar akuntansi apa (PSAK atau IFRS), pedoman modeling apa (FAST standard atau Modano), sampai detail letak kolom, baris, dan warnanya. Kalau AI dibiarkan menebak, di situlah halusinasi terjadi.
3. Trik Curang: Reverse Prompt Engineering Ini bagian favorit saya! Kalau Anda pusing mikirin cara nulis prompt yang panjangnya ratusan baris, Pak Purwadi punya trik jitu. Kasih saja file Excel financial model yang sudah jadi ke Claude, lalu perintahkan: "Tolong generate prompt yang bisa menghasilkan model yang persis seperti ini". Dalam hitungan detik, Claude akan menganalisis anatomi file tersebut dan membuatkan prompt matangnya untuk Anda pakai. Jenius, kan?
4. Jangan Serahkan Asumsi Bisnis ke AI Satu hal yang ditegaskan berulang kali di video ini: AI dilarang mengambil keputusan bisnis!. AI memang jago membuat struktur tabel dan merangkai rumus mekanis. Tapi, saat bicara soal asumsi proyeksi (misalnya: berapa persen pertumbuhan revenue tahun depan, atau apa strategi efisiensi biaya), itu 100% adalah human judgment alias tanggung jawab kita. AI tidak kenal siapa klien kita dan apa strateginya. Jadi, peran manusia sebagai pengambil keputusan analitis tetap tak tergantikan.
5. Jangan Fanatik Sama Satu AI Menariknya lagi, Pak Purwadi nggak cuma mengandalkan Claude. Beliau menggabungkan beberapa AI sesuai keunggulannya masing-masing. Claude dipakai untuk merancang logika dan deep reasoning, Shortcut dipakai untuk eksekusi pembuatan yang ngebut, dan Trace Lite sangat andal untuk melakukan audit mandiri guna mencari error atau hardcode dalam formula Excel.
Kesimpulan Pribadi Saya Setelah menonton video dari CFA Society Indonesia ini, saya jadi sadar bahwa belajar menguasai AI (terutama prompt engineering) itu sudah bukan pilihan lagi, tapi kewajiban. Walaupun AI yang ngerjain rumus Excel-nya, kita tetap wajib paham ilmu financial modeling supaya bisa mengaudit dan tahu kalau si AI melakukan kesalahan.
Seperti kata Pak Purwadi, AI ke depannya akan ada di mana-mana. Daripada merasa terancam, lebih baik kita jadikan AI ini teman kerja yang bikin kita jauh lebih produktif, mengurangi lembur yang nggak perlu, dan mengurangi human error.
Gimana, tertarik buat nyobain masukin laporan keuangan perusahaan ke Claude dan suruh dia bikinin modelnya sekarang? 🚀
Artikel ini dirangkum dari seminar Building Financial Models with Claude AI by Purwadi Nitimidjojo di Youtube channle CFA Society Indonesia
sumber video : https://youtu.be/ejEy03_DRq8
Ditulis oleh:
Ari Rudiana
Business & Tax Writer, Partners Hub Indonesia
Ditinjau oleh:
Tim Partners Hub
Tax Consultant, Partners Hub Indonesia
Terakhir diperbarui:
6 Juni 2026, 11.22 WIB


